Pria Tua Itu Menerima Apel Pemberianmu yang Rasanya Mengingatkannya kepada Kampung Halamannya
Pria Tua Itu Menerima Apel Pemberianmu yang Rasanya Mengingatkannya kepada Kampung Halamannya
Dalam perjalanan pulang dari sekolah kamu biasanya akan mendapati orang gila, setidaknya begitulah orang-orang di sekitar tempat tinggalmu menganggap gelandangan itu, yang tidak berbahaya, yang duduk di dekat tong sampah. Namun saat itu bukan orang gila yang biasa kamu lihat,
xmelainkan sosok yang lain. Seorang tua berjubah hitam bersandar lesu pada tembok di belakangnya. Pria tua itu memiliki janggut panjang seperti kambing ayahmu yang telah disembelih ketika hari raya qurban tiga tahun lalu
Kamu merasa kasihan kepadanya. Ada roti di tasmu, kamu berhenti berjalan untuk mengambil roti itu. Kamu berjalan lagi dan begitu ada di hadapannya,
kamu sodorkan roti itu kepadanya dengan kedua tanganmu—menyerahkan sesuatu dengan kedua tangan kepada seseorang yang lebih tua adalah bentuk rasa hormat sebagaimana yang diajarkan orang tua dan para gurumu.
Pria tua itu tetap bergeming, dia menatap roti itu dengan tatapan lelah, tidak ada semangat hidup yang terpancar dari kedua matanya
Kemudian, kamu berkata kepadanya: “Kakek tidak mau roti?
Pria tua itu menggelengkan kepala begitu pelan sehingga sulit untuk kamu lihat apakah dia menggelengkan kepala atau tetap bergeming.
klik66 - Lalu kamu masukkan kembali roti itu ke tasmu dan mengambil sebuah apel. Mestinya kamu memakannya di jam istirahat tadi, tapi kamu harus mengajari temanmu yang bertanya tentang cara mencari panjang jari-jari lingkaran pada tabung.
Ketika kamu sodorkan apel itu kepadanya, matanya tiba-tiba terbuka lebar, seolah apel itu membangkitkan suatu ingatan di dalam kepalanya yang sudah begitu lama terjadi.
Pria tua itu mengulurkan tangannya, kamu meletakkan apel itu hati-hati di atas telapak tangannya dan memastikan bahwa apel itu tidak akan tergelincir jatuh ke tanah
Pria tua itu berkata: “Dulu aku pernah menyuruh sepasang lelaki dan perempuan memakan apel sehingga mereka diusir oleh seorang tuan tanah. Terima kasih, Gadis Kecil. Aku akan memakan apel ini. Sekali lagi, terima kasih. Ini mengingatkanku pada masa lalu yang begitu jauh
Kamu mengangguk dan kemudian pergi dari sana
Semenjak hari itu, pria tua yang kamu beri apel itu selalu di sana dan kamu selalu memberinya apel tiap kali pulang dari sekolah. Dia menyukai apel pemberianmu. Katanya,
apel pemberianmu manis dan tidak membuat seseorang terusir. Kamu tidak mengerti maksud yang terakhir itu. Kamu hanya terus memberinya apel setiap siang sepulang dari sekolah untuk mengamalkan ajaran ibumu tentang pentingnya berbagi kepada sesama.
Maka, apel untuk bekalmu yang dimasukkan ibumu ke tas sekolahmu, selalu tidak kamu makan karena kamu akan memberikannya kepada pria tua itu sepulang sekolah
Suatu saat, kamu tahu bahwa pria tua itu merindukan kampung halamannya. Dia ingin pulang. Dia telah begitu lelah untuk mengembara lagi. “Aku sudah begitu tua,
tubuhku sering pegal-pegal, persendianku rasanya sakit sekali, Gadis Kecil,” katanya setelah menggigit apel pemberianmu
Sesekali kamu berjongkok di depannya. Melihatnya, kamu merasa iba. Pakaiannya begitu lusuh.
klik66 - Kalau saja pakaian ayahmu di lemari tidak dibuang dan dibakar seluruhnya oleh ibumu karena ayahmu tiba-tiba saja minggat dari rumah untuk pergi ke rumah perempuan yang konon lebih cantik dari ibumu,
mungkin kamu bisa mengambil beberapa setel pakaian ayahmu yang bagus-bagus dan bernama itu, dan memberikannya kepada pria tua di hadapanmu kini yang pernah memperkenalkan dirinya dengan nama Azazel
Kamu mulai memanggilnya Kakek Azazel, dan, karena dia telah memperkenalkan dirinya, kamu juga memperkenalkan dirimu: Aclima. Mendengar namamu, Kakek Azazel bertanya, “Apakah kamu punya saudara, Aclima?”
Kamu menjawab, “Saya punya satu kakak, namanya Abel, tetapi dia meninggal dunia di dalam kandungan. Saya tidak pernah melihatnya karena saya belum lahir. Kuburannya ada di TPU di ujung gang. Makamnya kecil sekali, mungkin seukuran kaki saya.”
Kakek Azazel turut bersimpati. “Di mana rumah kakek?” tanyamu kemudian. Kakek Azazel menggelengkan kepala,
kemudian dia berkata, “Rumahku begitu jauh dan aku sudah diusir dari sana setelah aku memberi sepasang lelaki dan perempuan sebuah apel agar mereka juga terusir dari sana
Bukan. Mereka pendatang. Begitulah yang selalu terjadi. Penghuni lama bisa saja terusir dari tempat asalnya karena pendatang. Apa di sekolah kamu sudah belajar Australia dan Amerika?
Kamu menggeleng. Kakek Azazel tidak meneruskan ceritanya. Dia mengunyah apel itu sampai tinggal tengahnya, lalu melemparkannya ke tong sampah di sampingnya. “Pulanglah, Aclima. Ibumu pasti khawatir kalau putrinya tidak kunjung pulang
Kamu mengangguk dan berdiri. Sebelum pergi, kamu berkata kepadanya bahwa kamu akan datang lagi dengan apel yang lain. Dia senang mendengarnya dan berterima kasih kepadamu.
“Aku suka apel,” katanya, “apel pemberianmu mengingatkanku pada kampung halamanku.” Kamu melambaikan tangan kepadanya dan dia membalas lambaian tangan itu
Ibumu mulai mendengar desas-desus yang membuatnya khawatir akan keselamatanmu. Menurut beberapa orang, kamu terlihat selalu memberi apel kepada pria tua yang duduk di gang sempit di samping tong sampah. Ibumu bukan tidak suka dengan kebiasaanmu berbagi makanan kepada mereka yang kekurangan,
tetapi kelanjutan desas-desus yang ibumu dengarlah yang membuatnya khawatir. Kamu terlihat bercakap-cakap dalam waktu lama dengan pria tua itu. Ibumu menasihatimu untuk tidak bercakap-cakap lagi dengannya,
bahkan untuk sementara waktu tidak apa-apa kalau kamu tidak berbagi kepada sesama. Namun kamu menolaknya, tentu dalam hati karena jika kamu katakan penolakanmu itu,
ibumu akan murka dan kemarahannya mungkin akan sama ketika ibumu mengeluarkan seluruh pakaian ayahmu dari lemari dan membuangnya ke sebuah lubang dan menyiraminya dengan bensin eceran yang dia beli dari tetangga dan kemudian dia bakar sampai hangus tak bersisa

Comments
Post a Comment